Kemiskinan Yang Terstrukur VS Petuah Para Motivator

115 views

Ada ungkapan umum di masyarakat yang sering bilang, “Kaya itu turunan, kalau keluarga kamu kaya, ya kamu pasti juga auto tajir.” Dan masalahnya kemiskinan itu juga seringnya begitu.

Kemiskinan itu terstruktur

Kemiskinan itu nggak terjadi begitu saja, tapi sebenarnya terstruktur banget. Lihat aja contohnya di kebanyakan masyarakat, mereka yang miskin kebanyakan juga berasal dari lingkungan yang miskin. Dan itu bukan masalah mereka kurang berusaha, kurang ikhtiar, atau kurang bersedekah, tapi lingkungan dan latar belakang mereka yang membuat mereka terbelit erat yang membuat sekuat apapun usaha mereka, ujung-ujungnya sulit lepas juga dari kemiskinan

Meskipun beberapa ada yang sanggup merangkak dari jurang kemiskinan, tetap jumlahnya tidak banyak. Yang asalnya miskin lalu menjadi tajir banget malah tambah dikit lagi.Kalau istilah matematika, namanya pencilan, yaitu nilai yang paling mencolok dari suatu data

Baru-baru ini di media sosial ada motivator yang mengatakan, “Miskin itu jangan lama-lama ya.”, ada pula pakar marketing yang ngomong,”Miskin itu soalnya sedekahnya kurang.”, dan hal itu menjadi  perbincangan seru di media sosial.

Dan sebenarnya kalau kita lihat dari sudut pandang netral, kedua kalimat itu sebenarnya ada benang merahnya. Yaitu mereka mengatakan sudut pandang itu, karena itu adalah profesi mereka dan tujuan dari profesi mereka adalah memotivasi dan menyemangati orang-orang untuk jadi kaya.

Bagi pengikut dan penggemar mereka yang sudah lama, nggak ada hal yang perlu dikritisi dari mereka. Sebab, kasarannya, ya “jualan” nya mereka memang begitu.

Tidak semua kata motivasi bisa diterapkan

Tapi jika demikian, maka orang yang sehari-harinya masih berurusan dengan keperluan sehari-hari yang masih sulit terpenuhi dan masih mikir bagaimana caranya membuat keluarga mereka perutnya kenyang, nggak akan cocok diberi motivasi seperti itu. Bahkan bisa-bisa malah tersinggung. Mereka bakalan ngomong,”lha saya ini sudah bekerja banting tulang setiap hari kok masih dibilang kurang usaha?”

Mereka itu bukan tipe orang yang bisa dikasih motivasi yang buat ukuran mereka terlalu muluk, seperti harus bermental kaya, mari merubah nasib,  beli buku ini, ikut seminar ini, apalagi ikut seminar dan beli buku mereka itu nggak murah kan. Karenanya, jenis motivasi dari orang seperti mereka hanya akan cocok ke level orang yang udah bisa makan kenyang dan nggak terlalu dipusingkan dengan kehidupan sehari-hari.

Jangan putus asa dan tetap belajar

Jadi poinnya adalah, nggak perlu terlalu merasa rendah diri jika menganggap level motivasi mereka masih di awang-awang, dan juga nggak perlu terlalu memaksa semua orang buat punya pemikiran yang sama dengan para motivator itu, karena semuanya itu ada cocok nggaknya bagi masing-masing orang, sama kayak ukuran baju. Toh kita ikutin persis ucapan motivator itu belum tentu juga kita auto kaya, pun demikian meski kita nggak setuju sama pendapat mereka, juga belum tentu kita nggak bisa kaya.

Saya pribadi juga nggak terlalu ngefans dengan mereka, dan ngobrol sama teman saya yang ngefans sama meraka juga asik aja kok, apalagi sambil belajar di bootb.com , dan kami asik-asik aja ngebahas kekurangan dan kelebihan pemikiran masing-masing.

Teman saya dulu banyak yang mengidolakan seorang motivator ternama yang dulu sering muncul di tv, dan juga sering diskusi seru membahas sisi positif dan negatif pemikirannya, dan akhirnya kami malah bisa sepakat akan perbedaan pandangan kami. Kita kan nggak perlu jadi seragam.

Begitu pula dengan netizen, bagi yang nggak ngefans, nggak perlulah melarang orang yang ngefans sama para motivator itu, dan demikian pula sebaliknya, nggak perlu juga memaksa orang untuk setuju dengan pemikiran mereka.
Tapi bagi yang suka memaksa juga nggak apa-apa sih, kan kalau nggak ribut nggak rame.